Senin, 11 April 2016

Meneladani Perjuangan Ahmad Soebardjo




AHMAD SOEBARDJO

      Tokoh yang lahir di Karawang, Jawa Barat pada tanggal 23 Maret 1896, adalah seorang tokoh yang berhasil meyakinkan Golongan Muda bahwa para senior atau Golongan Tua akan melaksanakan proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945. Beliau adalah seorang tokoh yang sangat patut diteladanj. Kerelaanya untuk mengorbankan diri sendiri demi bangsa dan negara merupakan tindakan yang sangat heroik dan patut diacungi jempol. Tindakan tersebut juga membuktikan bahwa Ahmad Soebardjo sangat optimis dalam memperjuangkan kemerdekaan RI.
       Keaktifanya dalam organisasi-organisasi seperti PI dan PNI menjadikanya sebagai tokoh yang sangat pantas diteladani. Ia berperan pula dalam mengakhiri periatiwa Rengasdengklok. Sebab dengan jaminan nyawanya, akhirnya Ir. Soekarno dan Moh. Hatta juga rombongan diperbolehkan kembali ke Jakarta dan melaksanakan perumusan teks proklamasi.
Nama anggota :
 Rian Aji Kurnia (27)
  Rizki Qonitati C.C (28)

Meneladani Perjuangan Burhanudin Mohammad Diah



Burhanudin Mohammad Diah

   BM. Diah lahir di Kotaraja yang kini dikenal sebagai Banda Aceh pada tanggal 7 April 1917.  Meninggal di Jakarta, 10 Juni 1996 pada umur 79 tahun. Beliau adalah seorang tokoh pers, pejuang kemerdekaan, diplomat dan pengusaha Indonesia. Selain itu beliau juga bergerak di bidang jurnalistik.
   Menjelang proklamasi kemerdekaan dikenal sebagai tokoh golongan muda yang radikal dengan organisasi yang dipimpin nya yaitu Gerakan Angkatan Baru 45.
   Pendidikannya dimulai di HIS Kotaraja tahun 1929, Mulo di Medan tahun 1935-1937.   Tahun 1935-1937 di Middelbaar National Handels Collegeium di Bandung, di bawah pembinaan dari Dr. Douwes Dekker salah seorang pendiri Indische Partij yang berhasil mengobarkan semangat nasionalismenya. Tahun 1937-1938 menjadi direktur utama Sinar Deli Medan di samping anggota redaksi surat kabar Warta Harian yang terbit di Jakarta 1938-1939. Pada tahun 1938 menerbitkan majalah Peraturan Dunia dalam Film. Pada tahun 1939-1942 menjadi penerjemah dan Kepala Pers Indonesia di Konsulat Jenderal Inggris di Jakarta. .
   Pada saat Jepang menduduki Indonesia, ia termasuk orang yang terkemuka di Jawa. Berkat profesinya dalam bidang kewartawanan, pada tahun 1942-1948 diangkat jadi pemimpin surat kabar Asia Raja di Jakarta. Walaupun demikian semangat nasionalismenya tetap ada. Bersama dengan Chairul Saleh, Sukarni, Wikana dan lain-lain sering mengadakan pertemuan dan akhirnya 3 Juni 1945 dibentuklah gerakan Angkatan Baru yang bertujuan "memperjuangkan Indonesia merdeka sekarang juga" dan ia diangkat sebagai ketuanya. Akibat gerakannya ini, dipenjarakan dengan tuduhan melakukan tindakan melawan pemerintah militer Jepang.
   Pada waktu perumusan teks proklamasi di rumah kediaman Maeda, dihadiri dari golongan pemuda, diantaranya BM. Diah. Setelah perumusan teks proklamasi disetujui hadirin kemudian diketik oleh Sayuti Melik akan tetapi konsep teks proklamasi itu dibiarkan begitu saja, oleh karena itu segera diambil dan dicetak oleh BM. Diah untuk disebarkan ke seluruh Indonesia. Pekerjaan tersebut dilakukan para pemuda yang bekerja di kalangan pers di bawah pimpinannya.
   Setelah Indonesia merdeka BM. Diah diangkat sebagai anggota KNIP Malang (1945-1952). Pada tanggal 1 Oktober 1945 ia menerbitkan surat kabar Merdeka. Selanjutnya pada tahun 1952-1955 diangkat menjadi anggota DPRS. Kegiatan beliau dalam pemerintahan terus berlangsung secara berturut-turut, yaitu tahun 1957-1959 sebagai anggota Dewan Nasional, Dewan Penasehat Presiden Soekarno.
   Setelah Indonesia merdeka BM. Diah juga diangkat menjadi duta besar untuk Cekosloakia dan Hongaria. Kemudian dipindahkan ke Inggris lalu ke Thailand untuk jabatan yang sama. Pada 1968 beliau diangkat oleh Presiden Soeharto menjadi menteri penerangan. Kemudian diangkat menjadi anggota DPR dan anggota DPA.
   Kegiatannya dalam jurnalistik pun terus berlanjut, tahun 1945 memimpin redaksi surat kabar Merdeka dan surat Kabar Indonesia Observer. Tahun 1947 ia meliput keadaan Jerman Barat dan Berlin yang baru kalah perang. Tahun 1949 (Juli-November) sering mengadakan wawancara dengan pemimpin-pemimpin dunia mengenai politik diantaranya; Presiden Najib dari Mesir, Perdana Menteri dari Nehru dari India, Perdana Menteri Chou En Lai dari Cina, Perdana Menteri Margereth Thacher dari Inggris dan lain-lain.
   Tahun 1954 ia menerbitkan surat kabar bahasa Inggris Indonesia Observer. Tahun 1957 diangkat menjadi komisi pemerintahan untuk menyusun Undang-Undang Pers Indonesia. Tahun 1971-1973 menjadi ketua PWI Pusat. Tahun 1974 menjadi anggota ketua dewan pembina PWI-Pusat, tahun 1978-1987 sebagai ketua Harian Dewan Pers Indonesia. Tahun 1987 menjadi anggota panitia penasehat untuk ketua Konferensi Menteri-Menteri Penerangan dari negara-negara Non Blok. Selain itu, ia juga mengadakan wawancara khusus dengan Presiden Michael Garbachev dari USRR mengenai Glasnots dan Perestroika.
   Pada tahun 1975 bersama teman-temannya mendirikan Yayasan 17 Agustus 45 yaitu lembaga yang mempelajari ilmu politik, sosial, kemanusiaan, dan ekonomi. Tahun 1975-1979 sebagai ketua Komisariat Daerah Persatuan Perhotelan dan Restoran Republik Indonesia (PHRI). Karya tulisnya yang sudah dibukukan, yaituAngkatan Baru 1945 terbitan tahun 1983, Meluruskan Sejarah terbitan 1984, dan Mahkota Bagi Seorang Wartawan terbitan 1988. Sehubungan dengan pengabdiannya terhadap pemerintah Republik Indonesia, memperoleh penghargaan berupa bintang Mahaputra kelas III, bintang negara Hongaria dan Ethiopia.
   Pada usia tuanya beliau mendirikan sebuah hotel di Jakarta, Hyatt Aryadutta , ditempat yang dulunya merupakan rumah orang tua Herawati (istrinya). Jabatan terakhir yang dipegangnya adalah sebagai presiden direktur PT.Masa Merdeka , dan wakil pemimpin PT.Hotel Prapatan Jakarta.
Penghargaan yang diperolehnya atas jasa-jasanya bagi negara yaitu :
1.      Bintang Mahaputra Utama dari presiden Soeharto (10 Mei 1978)
2.      Piagam penghargaan dan Medali perjuangan angkatan ‘45 dari Dewan Harian Nasional angkatan ‘45 (17 Agustus 1945)
3.      Bintang Mahaputra kelas III
4.       Bintang negara Hongaria dan Ethiopia.

Keteladanan :
   Bagian kecil dari pahlawan yang bergerak di bidang pers. Banyak pemikiranya yang di bidang pers yang bermanfaat bagi negeri ini. Surat kabar yang yang beliau tulis banyak berjasa menyiarkan berita-berita sekitar perjuangan bangsa dan negara, khususnya berita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Dari tangan B.M Diah pula lahir coretan-coretan sejarah bangsa, karena selain sangat dekat dengan Soekarno, beliau adalah wartawan yang ikut terlibat dalam perumusan naskah proklamasi.
   Harian Merdeka yang didirikannya dengan kekhasannya; kop warna merah darah memang tidak dapat dilepaskan dari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agusrus 1945. Terbitnya hanya satu setengah bulan setelah bangsa Indonesia menyatakan merdeka. Terbit saat bangsa Indonesia tengah berjuang mempertahankan kemerdekaan dan menegakkan NKRI.
   B.M Diah adalah generasi tiga zaman yang menunjukkkan dalam cita-cita dan perilakuknya, suatu garis yang konsisten dan konsekuen untuk menghayati dan mengamalkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila.
   Harian Merdeka bergabung dengan Soekarnodan semua partai politik melawan Sjahrir dan kawan-kawan, kaum sosialis, golongan Borjuis dan para pihak yang bekerjasama dengan Belanda. Pada tanun 1947 saat Perjanjian Linggarjati bersatudengan PNI dan Masyumi melawan Partai Sosialis dan PKI.
   Kesigapan dan kepekaannya dalam melihat situasi sesaat setelah teks proklamasi diketik dan naskah proklamasi yang asli dibuang begitu saja, maka beliau dengan segera mengambil dan menyimpannya. Merupakan suatu hal yang luar biasa dan patut diteladani generasi muda untuk jeli dalam menghadapi berbagai kesempatan yang ada.






Anggota Kelompok 6:
Safitri Anis Setya P (29)
Wida Nurani A (33)





Meneladani Perjuangan F.Wuz dan Yusuf Ronodipuro



F.Wuz dan Yusuf Ronodipuro
F.Wuz bersama Yusuf Ronodipuro adalah perintis siaran RRI, F. Wuz adalah tokoh yang membacakan berita Proklamasi di Radio sedangkan Yusuf Ronodipuro adalah salah satu pendiri dari Radio Republik Indonesia serta dikenal sebagai penyiar kemerdekaan Republik Indonesia secara luas.  Pada tanggal 14 Agustus 1945, Jusuf muda yang bekerja sebagai reporter di Hoso Kyoku datang seperti biasa ke kantornya di Jalan Medan Merdeka Utara. Suasana pagi itu tampak lain, beberapa orang Jepang yang bekerja di radio tersebut tampak bergerombol, mereka berbisik-bisik dalam suasana yang muram, bahkan gadis-gadis Jepang terlihat menangis.
Ternyata pada saat itu bom atom kedua sudah dijatuhkan di Nagasaki dan Jepang menyerah kepada Sekutu. Kabar tentang menyerahnya Jepang disampaikan oleh Mochtar Lubis yang juga bekerja di radio tersebut di bagian monitoring. Mochtar adalah satu-satunya orang Indonesia yang diizinkan mendengarkan siaran radio asing. Merasa bahwa hal itu penting untuk disampaikan kepada teman-temannya yang biasa berkumpul di Menteng Raya 31, berangkatlah Jusuf mengendarai sepedanya untuk memberikan kabar kekalahan Jepang. Sampai di sana, ternyata mereka sudah mendengar kabar yang sama dari Adam Malik yang bekerja di kantor berita DOME. Pada hari yang sama, Jusuf mendapat tugas untuk meliput kedatangan
Bung Karno dan Bung Hatta di bandara Kemayoran sepulang dari Saigon. Beberapa utusan golongan muda di antaranya Sukarni, Chairul Saleh, AM. Hanafi ikut menjemput dan mendesak Bung Karno dan Hatta agar segera menyatakan kemerdekaan. Usaha Sukarni dan kawan - kawan tersebut gagal. Menurut penuturan Jusuf, saat itu Bung Karno hanya berkata, “Saudara-saudara tidak usah menunggu umurnya jagung, karena jagung sebelum berkembang kita sudah akan merdeka.” Tidak ada penjelasan lain dari Bung Karno.
Sepulang dari Kemayoran, Jusuf mendapat pesan dari Sukarni agar merebut radio Hoso Kyoku karena akan ada pengumuman sangat penting. Tetapi di pintu masuk kantor tampak tentara Kempetai berjaga-jaga dan melarang orang masuk ke kantor. Karena Jusuf adalah karyawan, ia diizinkan masuk. Jusuf lalu menyampaikan pesan Sukarni itu kepada Bahtar Lubis yang sama-sama bekerja di bagian pengabaran (redaksi). Diisolasi Hari itu pimpinan Hoso Kyoku menyampaikan dua pengumuman kepada para karyawan. Pertama, para karyawan yang sudah di kantor dilarang keluar lagi dan yang di luar tidak diizinkan masuk. Kedua, siaran luar negeri dihentikan (mungkin agar berita kekalahan Jepang tidak sampai ke rakyat Indonesia).
Jadilah mereka semua diisolasi di kantor radio dan terpaksa bermalam di sana. Esoknya, hari Kamis 16 Agustus 1945 tidak ada kejadian berarti, siaran berjalan seperti biasa. Malam harinya ada sedikit keributan di depan kantor, ternyata Sukarni datang bersama beberapa orang Jepang tetapi dilarang masuk. Dari dalam mobil, Sukarni berteriak, “Tunggu, akan ada pengumuman penting,” lalu ia pergi. Di tempat lain, di sebuah rumah di Pegangsaan 56, tanggal 16 Agustus dini hari, selepas sahur, Sukarni dkk datang ke rumah Bung Karno. Mereka berusaha meyakinkan Bung Karno bahwa Jakarta tidak aman karena Jakarta akan menjadi lautan api, sehingga mereka ingin mengamankan Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok. Kedua pemimpin tersebut setuju dan berangkatlah mereka menggunakan mobil ke Rengasdengklok. Hari itu tak hanya serdadu Jepang yang sibuk mencari Bung Karno dan Bung Hatta, para anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) juga mencari karena sedianya hari itu dilakukan rapat.
Malam harinya kedua pemimpin tersebut kembali ke Jakarta dan langsung melakukan rapat perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Tadashi Mayda di Jalan Imam Bonjol No.1 dengan dihadiri anggota PPKI dan angkatan muda.
Kembali ke Jalan Medan Merdeka, hari Jumat 17 Agustus 1945, radio Hoso Kyoku tetap melakukan siaran seperti biasa. Jusuf dkk tidak mengetahui bahwa Indonesia telah menyatakan kemerdekaan karena komunikasi dengan dunia luar memang terputus. “Siang itu beberapa mahasiswa kedokteran berhasil masuk ke lobi membawa kertas. Di tangga, pistol yang dibawa seorang mahasiswa terjatuh dan diketahui tentara Kanpetai. Mereka lalu ditendang dan diusir keluar,” Jusuf mengenang. Kemungkinan mahasiswa tersebut membawa pengumuman proklamasi untuk disiarkan. Sore hari, sekitar jam 17.30, ketika Jusuf sedang menyiapkan menu berbuka puasa, masuk seorang teman dari kantor berita Dome (Jusuf lupa namanya). Dengan pakaian kotor dan basah oleh keringat karena ia meloncati tembok belakang kantor radio, ia menyampaikan secarik kertas.
Secarik kertas bertuliskan tulisan tangan dari Adam Malik. Tertulis : “Harap berita terlampir disiarkan.” Lampiran berita yang dimaksud adalah naskah proklamasi yang sudah dibacakan pukul 10 pagi. Jusuf lalu berembuk dengan Bahtar Lubis dan beberapa orang lain tentang pesan penting tersebut. “Semua studio dan ruang kontrol dijaga oleh Kempetai, bahkan saat itu semua naskah siaran harus disensor dulu termasuk lagu-lagu. Lalu saya teringat studio siaran luar negeri yang sejak tanggal 15 sudah ditutup,” ujar Jusuf. Untunglah nasib baik berpihak kepada mereka, ternyata studio siaran luar negeri tidak dijaga. Dengan berhati-hati mereka menyelinap masuk ke dalam studio. Tepat pukul 7 malam, Jusuf siap di depan corong radio untuk menyampaikan proklamasi kemerdekaan Indonesia ke seluruh penjuru Nusantara dan dunia.

HALYANG DAPAT DITELADANI
·         Keberanian dalam menyebarkan berita Proklamasi
·         Pantang Menyerah walaupun banyak halangan
·         Cerdas dalam memilih keputusan
·         Bertanggung jawab ketika diberi amanah


Sumber : www.gurusejarah.com

·         Disusun oleh :
·         Claudia Kumala D (07)
·         Irzat Roni W (16)
·         Rahmat Prasetyo N (25)